pagi di tepi pantai selalu memiliki pesona tersendiri. matahari baru saja
memanjat dari peraduannya, menyebarkan cahaya lembut yang merona di permukaan
air laut. angin berhembus dengan ritme yang menenangkan, dan ombak menyapa
pantai dengan suara yang merdu. di sebuah sudut, di bawah pohon kelapa yang
melengkung, ada seorang pria muda bernama Dipta yang duduk dengan kamera tua di
tangannya. ia sudah lama memilih pantai ini sebagai tempat untuk merenung,
menulis, atau sekadar mengamati kehidupan. tidak banyak orang yang datang
pagi-pagi seperti ini, hanya mereka yang mencari kedamaian atau yang ingin
menemukan sesuatu yang tersembunyi. dan Dipta selalu merasa bahwa dunia di sini
lebih nyata lebih sederhana namun penuh makna. pagi itu, seorang gadis bernama
Aruna datang berjalan di sepanjang garis pantai. ia mengenakan gaun putih yang
melambai-lambai tertiup angin, rambut panjangnya terurai bebas seperti helaian
awan yang menari di langit. langkahnya pelan, seakan ia sedang menari dengan
waktu yang terus bergerak. Dipta memperhatikan Aruna dari kejauhan, menyadari
bahwa setiap gerak tubuhnya tampak seperti bagian dari keindahan alam yang lebih
besar. tanpa berpikir panjang, Dipta meraih kameranya, mencoba menangkap momen
itu momen di mana seseorang menjadi bagian dari keindahan yang tak terungkapkan.
Aruna menyadari kehadiran Dipta ketika ia lewat di depannya. tersenyum tipis,
Aruna berkata, “kau suka mengambil gambar orang asing?” Dipta terkejut, namun
senyumnya lebar. “tidak, aku lebih suka menangkap momen yang tak terduga. momen
seperti ini.” ia menunjuk ke arah langit yang memudar dengan warna merah muda
dan biru. Aruna mengangguk, tampaknya mengerti. “tapi kadang, momen seperti itu
hanya bisa dinikmati oleh diri sendiri, bukan?” ia berkata sambil melangkah
lebih dekat. Dipta menatapnya, lantas memotret sekali lagi. “tapi jika ada
seseorang yang bisa mengerti keindahan itu, maka momen itu tidak hanya milik
satu orang saja.” Aruna terdiam, memandang ombak yang pecah di kaki mereka.
“mungkin,” katanya, “tapi kadang keindahan justru ada di dalam hening, di dalam
ketidaktahuan.” Dipta tidak menjawab, hanya melangkah mendekat dan mengamati
jejak-jejak langkah mereka yang tertinggal di pasir. bersama-sama mereka
berdiri, membiarkan waktu berhenti sejenak di bawah langit yang terus berubah.
hanya ada mereka, suara ombak, dan angin yang berbisik lembut. di sana, di tepi
laut yang tak pernah berhenti mengalirkan kisah-kisahnya, dua orang yang saling
diam berbagi keindahan yang tidak perlu dijelaskan.
jejak langkah di tepi pantai
Mau donasi lewat mana?
TMRW - Rinal Nauli Siagian (7363-7120-81)
BRI - Rinal Nauli Siagian (44040-10111-86508)
BCA Blu - Rinal Nauli Siagian (0005-8092-3399)
JAGO - Rinal Nauli Siagian (1000-3433-2320)
SEABANK - Rinal Nauli Siagian (9013-4949-0989)
BRI - Rinal Nauli Siagian (44040-10111-86508)
BCA Blu - Rinal Nauli Siagian (0005-8092-3399)
JAGO - Rinal Nauli Siagian (1000-3433-2320)
SEABANK - Rinal Nauli Siagian (9013-4949-0989)
Merasa terbantu dengan artikel ini? Ayo dukung dengan memberikan DONASI. Tekan tombol merah.
